Tadabur Quran Surah At-Tin

Oleh Budi Jaya Putra, S.Sy., S.Th.I., M.H.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ * وَطُورِ سِينِينَ * وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ*

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ * ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ *

 فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ * أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ*

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun (1), dan demi bukit Sinai (2), dan demi kota (Mekah) ini yang aman (3), Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (4). Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) (5), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (6). Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?(7) Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?(8).

(QS. at-Tin/95: 1-8)

Karena pendeknya suatu surat dalam Al-Quran, biasanya orang lupa untuk belajar memahaminya, atau karena pada dasarnya memang sungkan dan tidak punya keinginan. Salah satunya yaitu QS. At-Tin, yang menjadi salah satu surat favorit ketika salat tarawih. Untuk itulah, pembahasan ini mencoba mentadabburi apa yang terkandung dalam QS. At-Tin. Surat ini diawali dengan tiga buah sumpah dan dua huruf taukid, atau dalam kaidah bahasa Arab disebut dengan huruf penegasan. Tiga hal yang dijadikan sumpah oleh Allah ialah: buah tin-buah zaitun, bukit tursina dan negeri yang aman.

            Dalam kitab tafsir Ibnu Kasir, buah tin melambangkan Baitul Maqdis dan juga melambangkan kenabian, yaitu Nabi Isa as. Bukit tursina, yang mana di sana terdapat kisah Nabi Musa as. Kemudian selanjutnya “baladun amin” yaitu kota Mekah sebagai lambang kenabian Nabi Muhammad SAW. Sebagai seorang muslim seharusnya tertarik dengan adanya tiga lambang tersebut. Dengan tiga hal tersebut dengannya Allah jadikan sebagai sumpah, hal itu mengindikasikan adanya sesuatu yang harus diperhatikan.

            Ayat selanjutnya diawali dengan dua buah huruf taukid, yaitu huruf lam dan kata qad yang berarti sesuatu setelahnya pasti terjadi/ akan terjadi. “sungguh-sungguh, manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya bentuk”. Hal ini menunjukkan suatu pemberitahuan, penjelasan dan peringatan dari Allah SWT bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan sebaik-baiknya bentuk.

            Bertafakurlah sejenak dengan beberapa binatang yang biasa dijumpai. Ada kambing, sapi, kuda, kucing. Semua memiliki empat kaki dan selalu berjalan menunduk. Setelah itu perhatikanlah manusia yang dengan dua kakinya dapat tegap berdiri dengan gagah, dua mata yang begitu sempurna dan indah. Telinga kanan dan kiri, tangan dan kaki yang begitu sempurna. Dan satu hal yang membedakan antara manusia dengan mahluk yang lain ialah bahwa manusia dikaruniai akal. Dengan akal yang Allah berikan untuk manusia, maka menjadikannya mampu berfikir, sehingga mereka dapat membuat sesuatu yang sejatinya tidak dimilikinya.

            Manusia bisa terbang tanpa harus mempunyai sayap, dengan akal pikirannya ia membuat pesawat, sehingga dapat terbang. Manusia bisa berjalan lebih cepat, karena dengan pengetahuan yang dimilikinya dapat membuat motor, mobil, kereta, kapal dan sejenisnya. Mereka juga dapat masuk ke dalam lautan yang dalam tanpa harus memiliki insang seperti ikan, dengan ilmu yang dimiliki dapat membuat kapal selam. Sungguh luar biasa, begitu sempurnanya manusia ketika diciptakan.

            Akan tetapi ayat tersebut dilanjutkan, ‘kemudian manusia dikembalikan ke dalam keadaan yang selemah-lemahnya, dalam keadaan yang buruk’. Adapun alasan manusia dikemblikan ke tempat yang buruk ialah karena manusia tidak melaksakan apa yang diperintahkan Allah. Lihatlah dengan akal pikiran yang luar biasa dan anggota tubuh yang luar biasa, akan tetapi masih banyak manusia seperti bukan manusia. Sebagaimana dalam QS. al-A’rof/7: 179, bahwa ada di antara mereka yang seperti binatang, bahkan lebih rendah dari itu. Hal tersebut karena mereka tidak menggunakan apa yang Allah karuniakan dengan sebaik-baiknya.

            Terdapat salah satu falsafah kehidupan atau kata mutiara: ‘tiada harimau yang memakan anaknya sendiri’, namun sekarang banyak terjadi orangtua/ ayah yang tega menzinahi anaknya sendiri, bahkan ada juga yang menjualnya lalu uangnya digunakan untuk berfoya-foya. Mereka itulah yang akan kembali ke tempat yang hina sebab hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Maka, keterangan selanjutnya ialah, ‘kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh’.

            Ada golongan manusia yang tidak akan kembali ke tempat yang buruk itu, yaitu bagi mereka yang memiliki dua syarat, yakni iman dan amal saleh. Orang tersebut tidak akan kembali kepada kesesatan, kehancuran, atau tempat yang serendah-rendahnya. Dua syarat itu juga disebutkan dalam QS. Al-’Asr. Diterangkan bahwa manusia berada dalam keadaan rugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh.

            Dari informasi tersebut, maka kunci hidup agar tidak terpuruk ialah segera memeriksa tingkat keimanan, bagaimana hubungan dengan Allah. Masalah iman, ketika dikaitkan dengan QS. Al-Baqarah/2: 183, menurut Ibnu Abbas ra. apabila dalam suatu ayat terdapat lafadz yaa ayyuhalladzina amanu, hal tersebut menunjukkan ada sesuatu yang khusus dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang beriman saja, lain tidak. Bahkan, sekalipun orang yang mengaku sebagai muslim sekalipun.

            Sebab dalam ajaran Islam, ada tiga hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, yakni Islam, iman dan ihsan. Islam sebagai syariat, syarat masuknya mudah, tetapi untuk dapat melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah dalam syariat Islam tersebut, dibutuhkan keimanan sampai mencapai derajat ihsan atau takwa.

            Jika puasa tidak dilandasi dengan iman, maka tidaklah sempurna apa yang dikerjakan. Misalnya seperti yang biasa terjadi ketika bulan Ramadhan, ketika masih awal warung dipinggir jalan masih sepi dan tidak banyak dijumpai orang yang berani makan dipinggir jalan. Namun ketika sudah masuk pertengahan akhir, orang tidak lagi merasa malu. Bagi yang perempuan mungkin dengan mudah beralasan ia sedang berhalangan. Tapi bagi mereka yang laki-laki: bukan orang yang sakit, musafir, pekerja berat ataupun tua renta, yang merupakan rukhsoh bagi orang yang tidak berpuasa. Tapi masih saja tidak menjalankan ibadah puasa.

            Selain itu ada yang berusaha mencari-cari tempat persembunyian. Pernah suatu ketika dijumpai terdapat bungkus makanan di kamar mandi. Mereka lebih malu di hadapan manusia daripada kepada Allah, tidak bisa dibayangkan bagaimana orang tersebut makan di kamar mandi. Seperti itulah mereka yang tidak memiliki keimanan yang baik. Dalam satu hadis kudsi disebutkan bahwa puasa itu untuk-Ku (Allah), karena hakikatnya yang mengetahui seseorang sedang berpuasa atau tidak hanyalah Allah dan dirinya sndiri.

            Orang akan masuk pada tahapan yang lemah dan dalam keadaan seburuk-buruknya ketika dia tidak mau beriman dan beramal saleh. Adapun, Ibnu Abbas ra. menafsirkan ayat ini bahwa manusia diciptkan dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Melewati masa kecil, tumbuh menjadi muda, dewasa lalu dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya. Namun, ketika menginjak masa tua dan dalam keadaan yang selemah-lemahnya, sebagai seorang yang tua renta.

            Apabila saat masih muda mampu melakukan perbuatan yang baik/ amal saleh, biasanya ketika sudah tua akan mampu berbuat yang baik juga. Lihatlah di sekitar, bagaimana keadaan orang tua tersebut. Dapat dipastikan, ketika ada orang tua yang malas ke masjid, sudah barang tentu ketika masa mudanya juga malas. Meski, tidak bisa dipungkiri juga ada beberapa yang meskipun masa mudanya malas, namun ketika sudah tua justru sangat rajin beribadah.

            Dengan demikian, mulai sekarang siapapun yang berada dalam usia muda, pergunakanlah dengan hal yang baik, memperbanyak amal saleh. Sehingga ketika tua nanti, ketika dalam keadaan asfala safilin, tidak dalam kondisi yang terpuruk atau dalam keadaan lemah yang miskin dengan iman dan amal saleh. Siapa yang menanam dialah yang akan memanen. Masa muda banyak menanam, masa tua saatnya memanen.

Pentingnya RS. PKU Muhammadiyah

sumber gambar : https://globalrancangselaras.com/projects/gedung-rawat-inap-rs-pku-muhammadiyah-tegal/

dr. H. Arifuddin, Sp.Ot

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَٱحْتَمَلَ ٱلسَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ ٱبْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَٰعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْحَقَّ وَٱلْبَٰطِلَ ۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (QS. Ar-Ra’d/13: 17)

            Segala puji dan syukur kehadirat Allah Ta’ala atas segala nikmat. Meskipun banyak melakukan kemaksiatan kepada-Nya, juga melalaikan-Nya, namun karena kasih sayang-Nya, Allah masih terus memberi kenikmatan. Maka tiada cara lain yang dapat dilakukan selain bersyukur, dengan terus meningkatkan kalitas amal serta memanfaatkan sisa umur yang masih ada, untuk memperbaiki amal ibadah yang diridhoi Allah.

            Pernah suatu ketika di RS. PKU Muhammadiyah Gamping kedatangan seorang pasien bernama Ust. Nasirul. Beliau merupakan salah satu pendiri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan. Pada saat masuk waktu shalat Dhuhur, meski dalam keadaan sakit beliau tetap ikut shalat berjamaah. Kemudian setelah selesai shalat, Ust. Nasirul diminta menyampaikan kultum kepada para jamaah yang terdiri dari para pegawai Rumah Sakit dan juga keluarga pasien yang rawat jalan. Pada saat itu, beliau sampaikan salah satu ayat dalam QS. Ar-Ra’d:

فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ …

Kurang lebih artinya ialah, “Maka apa saja yang merupakan buih (yang terombang ambing kesana kemari, terbawa oleh air laut, gelombang, tercerai berai lalu) akan hilang. Dan apa saja yang bermanfaat bagi manusia, maka akan tetap berdiri (di dunia dan Allah akan) kokohkan di dunia. Demikianlah Allah memberikan permisalan”.

            Sehingga kalau hanya sebagai buih yang tidak ada manfaatnya, maka akan hilang. Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan bersama murid-muridnya, Muhammadiyah berhasil melahirkan beberapa amal usaha, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Tujuan yang juga menjadi nafas dari AUM itu sendiri yaitu dakwah amar maruf nahi munkar. Di sinilah arti pentingnya kehadiran Rumah Sakit Muhammadiyah yang memiliki visi tersebut.

            Ada beberpa penelitian yang menyebutkan bahwa banyak Rumah Sakit yang didirikan, namun tidak sampai generasi ketiga, dan hanya ada dua atau tiga saja yang terus bertahan. Pertama, Rumah Sakit milik Pemerintah, hal ini karena ada dana dari pemerintah. Kedua, Rumah Sakit Militer, hal ini karena ada prioritas dari negara. Ketiga, Rumah Sakit dengan misi agama-agama. Apabila Rumah Sakit didirikan pada prioritas bisnis semata, maka hanya akan bertahan pada generasi pertama saja.

            Kenapa diperlukan Rumah Sakit yang visi misinya dakwah amar ma’ruf nahi munkar? Pertama, karena setiap orang berpotensi menjadi pasien, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 155 bahwa Allah pasti akan memberikan ujian. Dan Allah pasti akan menguji setiap orang dengan kekurangan jiwa, atau juga dapat dipahami sebagai sakit. Sehingga, banyak orang yang datang ke Rumah Sakit.

            Kedua, masih banyak pasien yang belum bisa menerima penyakitnya. Menurut petugas kerohanian di RS. PKU Muhammadiyah, semakin tinggi gelar yang dimiliki, maka semakin sulit orang itu menerima penyakitnya. Membutuhkan treatment yang lebih, agar apa yang disampaikan dapat masuk ke qalbu, sehingga pasien tersebut mau menerima penyakitnya. Ketika seseorang jauh dari agama, maka biasanya kalimat yang muncul ialah menyalahkan takdir Allah, “dosaku ki opo, kok gusti Allah kejek banget karo aku”. Bahkan ada sebuah penelitian di Gunung Kidul, yang menjelaskan bahwa ada orang yang menyelesaikan masalah sakit kronis dengan cara bunuh diri. Hal tersebut tentunya karena kurang sabar dalam menghadapi penyakitnya, maka disinilah pentingnya dakwah.

            Ketiga, butuh seseorang yang mampu mendampingi, membimbing, dan mengingatkan pasien untuk senantiasa menjalankan shalat. Bersuci sebagai bagian dari syarat sahnya shalat, ternyata masih banyak pasien yang belum mengetahui tata cara bersuci (bertayamum) yang benar. Inilah pentingnya Rumah Sakit yang di dalamnya terdapat pembimbing yang dapat mengingatkan seseorang kepada Allah, terlebih setelah keluar dari Rumah Sakit lebih ingat, dekat dan taat kepada Allah.

            Keempat, karena manusia kadang dicoba oleh Allah dengan penyakit yang sulit sembuhnya. Penyakit kronis, yang harus sering keluar masuk Rumah Sakit. Betapa manusia ingin mencari cara sembuh namun kadang caranya ini berakibat fatal. Pernah terjadi di Kelurahan Banjarasri, Kalibawang. Ada orang tua namanya pak Sari Kromo, ia memiliki sakit di kakinya yang tidak kunjung sembuh. Sehingga suatu ketika ada berita seorang pendeta di Muntilan yang dapat menyembuhkan sakitnya. Kemudian ia berangkat ke tempat tersebut dan singkat cerita, Pak Sari Kromo sembuh kemudian pindah agama. Ia berganti nama menjadi Barnabaj Sari Kromo lalu pulang kampung dalam keadaan sehat. Di desanya, ia kemudian mengajarkan keyakinanya itu kepada masyarakat sekitar. Satu tahun berdakwah, sukses membaptis 137 penduduk Banjarasri. Kemudian pada tahun 1930, beridirilah RS. Santo Yusuf secara resmi.

            Pentingnya membimbing masyarakat, menyadarkan bahwa apapun yang menimpa seseorang itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Sakit merupakan ujian dari Allah, yang terpenting ialah mampu bersabar dan tetap berusaha. Semoga dengan sakit tersebut, Allah mengurangi dosa-dosanya. Adakalanya yang berobat ke Rumah Sakit itu sembuh, namun ada juga yang sampai wafat. Di sinilah, bagaimana agar sampai wafatnya ia dalam keadaan muslim, walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun. Demikianlah pentingnya Rumah Sakit PKU, terus berusaha menjadi lebih baik. PKU pasti ada kekurangnya, namun terus berupaya untuk membenahi, maka dari itu mohon selalu doa dari masyarakat secara umum dan khususnya warga persyarikatan.

Akhlak Takwa dalam Pribadi Muslim

Oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّاءِ وَٱلضَّرَّاءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“…(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imron/3: 134)

            Ketika bermuhasabah tentang ibadah puasa, maka betapa intensnya riyadhoh/ olah jiwa-ruhani dalam proses ibadah tersebut yang telah dikerjakan. Kewajiban puasa selama sebulan penuh setiap tahunnya, belum terbilang dengan puasa sunnah seperti puasa senin-kamis, puasa ayyamul baidh, syawal, ‘asyura juga puasa dawud. Maka bisa diproyeksikan seberapa jauh kualitas ketakwaan seseorang, sebagai buah dari berpuasa apabila benar-benar menghayati apa yang selalu dibaca setiap bulan Ramadhan tiba tentang puasa, yakni QS. Al-Baqarah/2: 183. Bahkan, setiap muslim telah mendengar ayat tersebut berulang-ulang dengan berbagai tafsirnya oleh para muballigh, dai atau penceramah lainnya dalam berbagai kesempatan. Namun, pertanyaan yang paling mendasar ialah, seberapa jauh pelajaran tentang nilai ketakwaan dari berpuasa yang ditunaikan dalam frekuensi yang tinggi itu dapat terwujud dan teraktualisasi di dalam kehidupan sehari-hari.

            Aktualisasi dengan memancarkan perilaku akhlak takwa dalam pribadi setiap muslim. Ahlak takwa adalah suatu proses kejiwaan yang muncul dalam setiap diri seorang muslim, di mana nilai-nilai takwa itu tertunjam dan tertanam dalam diri, kemudian teraktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat berupa sikap dan tindakan sebagaimana nilai-nilai takwa tersebut menjadi konstruksi keagamaan umat muslim, sebagai hasil dari berpuasa. Setiap orang dapat mengelaborasi atau mendaftar tentang nilai-nilai takwa apa saja, sebagai buah dari ketakwaan yang tentu sudah mematri dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam al-Quran, Allah menerangkan tentang ciri-ciri orang bertakwa, sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al Baqarah/2: 177 dan QS. Ali Imron/3: 134. ‘Nilai akhlak takwa mana yang benar-benar sudah terinternalisasi dalam kehidupan?’. Inilah yang perlu menjadi pertanyaan untuk setiap muslim.

            Nilai atau norma yang diyakini dan dipahami dari agama Islam semuanya luhur dan ideal, namun ketika masuk dalam aktualisasi akhlak, sering ada kesenjangan/ jarak antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Misalnya, di antara ciri orang bertakwa yaitu: wal ‘afiina ‘aninaas/ memaafkan manusia dan walkadhimiina ‘anilghaidh/ mencegah atau memelihara diri dari marah.

  1. ‘Bisakah menahan marah bukan pada saat keadaan normal, melainkan ketika ada stimulan yang masuk ke dalam diri dan tidak membuat nyaman perasaan, harga diri dan segala macam yang biasanya menyatu dalam ego?.’ Ini juga perlu ditanyakan kepada setiap individu muslim. Banyak orang yang sukses melakukan sabar, tapi ketika menahan marah justru tidak semuanya berhasil/ sukses, terlebih ketika marah itu karena memang punya alasan untuk marah.            Misalnya, tiba-tiba ada orang yang menghina dengan perkataan yang merendahkan diri, maka kadangkala keluarlah marah, yang melebihi takaran dari apa yang dikeluarkan orang atas penghinaan tersebut. Apalagi, ketika marah tentang sesuatu yang dianggap ideal.

            Sekarang ini bangsa manusia memasuki fase kehidupan baru yang disebut dengan media sosial. Hampir semua orang dalam berinteraksi bukan lagi secara langsung, namun melalui media elektronik. Relasi digital memiliki karakteristik hubungan yang bersifat impresonal/ melewati batas pribadi secara langsung. Setiap hari dapat disaksikan, betapa banyak orang memproduksi ujaran-ujaran, kalimat-kalimat yang bukan saja mencerminkan rendahnya akhlak mulia, bahkan sudah keluar berbagi ujaran yang tidak layak. Sedikit saja informasi yang tidak menyenangkan, maka publik segera merespon hal itu dengan cepat, dan diiringi ujaran yang begitu rupa. Bahkan amarahpun bisa dibaca secara umum. Hal seperti ini apabila tidak disikapi dengan benar dan terus seperti itu, turun temurun antar generasi, maka dapat menghacurkan peradaban manusia !.

            Ada satu kisah pada zaman Nabi, suatu ketika di bulan Ramadhan Nabi SAW sedang berkeliling, kemudian berjumpa dengan seseorang yang sedang mencaci maki hamba sahayanya. Dengan begitu lembut Nabi kemudian memberikan sepotong roti/ sebiji kurma kepada orang tersebut. Lalu ia terperangah dan bertanya, mengapa Rasulullah memberikan makanan tersebut, padahal sedang berpuasa. Kemudian Rasulullah menjawab: mengapa engkau mencaci maki hamba sahayamu padahal kamu sedang berpuasa?,” رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ والعطش “banyak orang berpuasa, tapi tidak mendapat hasil dari puasanya itu, keculai lapar dan dahaga”.

            Cara Nabi tersebut merupakan cara yang bersifat dekonstruksi/ membuka alam kesadaran orang tentang penghayatan keagamaan. Sholat yang dikerjakan setiap hari dengan begitu rupa rukun dan syaratnya, adakah sholat tersebut melahirkan khusyu dan khusyu itu melahirkan taqarub kepada Allah? Di sinilah kadang juga terjadi kontradiksi, kalau ada yang tidak sesuai rukun, bersegera komentar dalam hati, “ini orang di sebelah kok gak kaya sunnah Nabi…” pikirannya menjadi terpecah, kekhusyuan menjadi hilang. Padahal sholat ialah taqarub ilallah. Lebih jauh lagi makna tentang itu, ialah tanha ‘anil fahsya‘i  wal munkar. Bisakah dengan sholat tersebut mencegah diri dari sagala bentuk kekejian dan keburukan? Terutama ketika ada peluang, dan peluang itu menyenangkan serta tidak ada orang lain di sekitarnya. Menghindari diri dari perbuatan keji dan mungkar di hadapan orang banyak itu wajar, namun ujiannya ialah saat tidak ada orang lain, sementara peluang dalam melakukan hal tersebut menyenangkan, maka di situlah jiwa muraqabah seseorang sedang diuji.

            Aktualisasi takwa dari sholat dalam kehidupan, itulah yang disebut dengan tanha ‘anil fahsya‘i  wal munkar. Sehingga dalam ibadah sholat sendiri terdapat tiga dimensi, yaitu: dimensi rukun, yang meliputi syarat ketentuannya sesuai dengan sunnah, dimensi khusyu’ atau upaya untuk dapat bertaqarub kepada Allah, dan dimensi tahsinah/ kebaikan yang mendatangkan manfaat dari mendirikan ibadah sholat tersebut.

            Sama halnya dengan puasa, bahwasanya puasa memiliki makna al-imsak/ menahan diri. Sampai Nabi memberikan nasehat, ketika ada orang lain yang mengajak bertengkar, padahal saat itu sedang berpuasa, agar mengatakan “inni shoim/ sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Artinya, perilaku seperti itu tidak boleh hanya dilakukan pada saat berpuasa saja, akan tetapi tatkala telah berbuka puasa dan juga pasca Ramadhan. Perilaku seperti hifdhu lisan, hifdhu ‘aql, hifdhu kalam, harus selalu ditunjukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, umat Islam dapat menunjukan kepada dunia perbedaan antara seorang muslim dan nonmuslim, wamaa bu’istu liutamima makarimal akhlak.

  • Wal ‘afina ani naas. Memberikan maaf kepada orang lain bukanlah sesuatu hal yang mudah, terlebih memberi maaf itu pada saat posisi diri sendiri berada pada posisi yang benar atau sedang berada di atas. Sementara orang lain yang bersalah itu berada pada posisi yang sebaliknya. Justru Allah hendak memberikan pelajaran, bisakah seorang muslim mampu membongkar perasaan yang pada saat itu berada dalam posisi yang benar, lalu memberikan maaf kepada orang lain.

            Pada era sekarang ini kata maaf itu mahal harganya, terlebih apa yang terjadi melalui media sosial. Marahnya orang beragama, seharusnya berbeda dengan kemarahan orang yang tidak beragama. Hal ini karena di tengah kemarahan seorang muslim, dalam dirinya terdapat Allah dan Rasululah serta al-Quran, yang membingkai nilai akhlak tersebut. Di pesantren diajarkan perilaku hifdhu lisan/ hifdhu kalam, menjaga lisan dan tulisan. Bahkan dalam hubungan antara guru dan murid, diajari ‘aliman muta’aliman, ini untuk membentuk akhlak. Selain itu juga diajari mujamalah/ saling memuji/ memberikan apresiasi, meskipun mengetahui ada kelemahan dalam diri orang tersebut. Sekarang perilaku seperti itu mahal.

            Kenapa masih banyak muslim yang gampang marah, padahal setiap tahun mereka berpuasa, sementara ciri takwa adalah walkadhimin ‘anilghaid. Setiap hari selain taqarab tetapi juga memperkaya akhlak menjadi akhlak kairmah, sebagaimana Rasul menjadi figur uswah hasanah sekaligus Allah mengangkatnya sebagai akhlak adhim, yang mulia lagi utama.

Empat Macam Waktu

Oleh H. Nurkholis, S.Ag., M.Ag

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“ (QS. Al-‘Ashr/103: 1-3)

Setiap orang diberikan modal yang sama oleh Allah, sehari selama 24 jam. Seminggu 168 jam dan sebulan 720 jam. Modal sama, namun isi belum tentu sama. Sebagai contoh di jam yang sama ada orang yang masih asik dengan buka bersama dan bercanda ria bersama sanak saudara, ada yang bergegas wudhu dan sholat di rumah, ada pula yang berangkat ke masjid shalat berjama’ah. Waktunya sama, namun isi berbeda. Bagi yang shalat di rumah hanya mendapat pahala shalat sendiri bila shalat sendiri. Yang di masjid langkah satu kaki menaikkan derajat, langkah kaki lainnya menghapus dosa. Shalat tahiyatul masjid dilanjutkan shalat berjama’ah isya. Sekali lagi, waktu yang sama tetapi isi berbeda.

Rasul menyampaikan ada dua nikmat yang sering diabaikan oleh manusia. Pertama ialah nikmat waktu luang. Kedua ialah nikmat sehat. Bagi mereka yang mau mensyukuri nikmat waktu, pastilah modal yang Allah berikan terisi dengan padat. Sebaliknya bagi yang kufur dengan nikmat waktu, boleh jadi modalnya itu terbuang sia-sia.

Dalam surat al-‘Ashr terdapat pesan yang sangat penting untuk menggugah dan mengingatkan diri akan anugerah yang Allah berikan berupa waktu itu. Waktu dalam al-Qur’an menggunakan empat kata. Yang pertama ialah ad-Dahru (hal ata ‘alal insani hinum minad dahri). Kedua ‘Ajal (idza ja a ajaluhum la yastahiruna sa’atan wa la yastaqdimun). Ketiga, al-Waqt (inna shalata kanat ‘alal mu’minina kitaban mauquta). Keempat yakni al-‘Ashr, sebagaimana dalam QS. Al-‘Ashr.

Ad-Dahr adalah waktu sebelum keberadaan seseorang. Maka terhadap ad-Dahr seorang tidak mempunyai konsekuensi. Seorang tidak akan diminta pertanggung jawaban sebelum ia ada atau lahir.  ‘Ajal artinya batas keberadaan sesuatu. Itu mengapa orang yang meninggal sering disebut telah sampai pada ‘ajalnya, telah sampai batasnya. Al-Waqt/ waktu adalah batas dari berakhirnya suatu pekerjaan, seperti adanya batas-batas waktu dalam shalat. Allah peringatkan hambanya dengan al-‘Ashr, dulu al-‘ashr maknanya adalah memeras. Sebab dari pagi orang bekerja, memeras keringatnya hingga sore hari, waktu ‘Ashr.

Orang yang sudah sepuh biasa disebut dengan waktunya sudah ‘ashr, kalau masih muda, ia masih dhuha atau masih dzuhur. Biasanya orang akan merasakan kerugian kalau waktunya sudah ‘ashr. Bagi yang masih muda cenderung belum memikirkan kerugian. Sebab ia belum sampai pada ‘ashr. Sama seperti di penghujung Ramadhan. Pastilah ada orang yang menyesal. “Ya Allah mengapa ini baru sampai juz 15 membacanya”. Bagi yang sudah khatam iapun menyesal kenapa hanya bisa mengkhatamkan al-Qur’an sekali saja. Harta yang hilang bisa dicari lagi. Namun waktu yang hilang tidak pernah bisa akan kembali lagi.

Manusia yang berada dalam kerugian sebgaimana dalam surat al-‘ashr para ulama memilki beberapa penafsiran. Ada yang mengatakan bahwa manusia di sini ialah semua manusia. Ulama lainnya berpendapat manusia disini bermakna mereka yang sudah baligh. Sebab sebelum akil baligh semua amalan yang ia lakukan belum dihitung, belum mukallaf.

Dalam tafsir al-Kasyaf, akhiran kata ‘in’ dari kata ‘husrin’ (isim nakiroh) memiliki makna keaneka ragaman. Sehingga maknanya menjadi manusia itu akan berada dalam keanekaragaman kerugian. Kecuali mereka yang beriman. Iman itu adalah pembenaran dalam hati dari apa yang didengar, bukan pembenaran pikiran. Tidak semua yang didengar dan diyakini itu iman, maka yang dimaksud disini ialah Qur’an dan Sunnah.

Iman itu penyuburnya adalah ilmu. Sehingga bila ingin iman kuat, maka ilmulah yang bisa menyuburkan iman itu. Terus belajar, sebab belajar pupuk keimanan. Namun hanya iman saja orang masih rugi. Sehingga ayatnya dilanjutkan dengan wa ‘amilu shalihat. Amal itu adalah apa yang dihasilkan oleh pikiran, hati dan perbuatan. Bukan hanya perbuatan saja, pikiran merupakan amal, dan gerakan hati juga termasuk amal. Amilu shalihat maknanya bukan sembarang amal, akan tetapi amal yang shalih.

Orang hanya dengan iman dan beramal shalih masih rugi. Ditambahlah dengan watawa shaubil haq. Saling nasehat menasehati dalam soal yang haq. Haq itu makna asalnya yang kokoh, adapun yang kokoh itu ialah nilai-nilai agama. Di mana nilai-nilai agama ini akan selalu tegak dan kokoh kapan dan dimanapun. Dan hal itu juga masih dalam kategori merugi sampai ia senantiasa berlaku sabar.

JADWAL IMSAKIYYAH RAMADHAN 1441 H

Jadwal imsakiyah adalah satu informasi yang wajib dipantau umat Islam saat bulan Ramadan. Berikut jadwal imsakiyah dan buka puasa Ramadhan 1441 H/2020 untuk seluruh kota di Indonesia, dikutip dari suaramuhammadiyah.id

Nikmat Ramadhan Harus Didapatkan

oleh Irfan Nuruddin, S.Th.I., M.Hum

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(QS. Al-Baqarah/2: 183)

          Bulan Ramadhan ialah bulan yang suci. Maka orang-orang yang mampu merasakan indahnya bulan Ramadhan, nikmatnya bulan Ramadhan dan nikmatnya beribadah di bulan Ramadhan hanyalah orang-orang yang senantiasa mampu menjaga kesucian dirinya. Masuk bulan Ramadhan, namun tidak mampu menjaga kesucian, akan menjadi hambatan yang sangat serius bagi kaum muslimin untuk bisa merasakan indah dan nikmatnya Ramadhan sampai diakhir bulan.

          Ada lima hal bagi setiap muslim yang perlu dijaga kesuciannya. Pertama ialah kesucian secara fisik. Harus bisa memastikan badan dalam keadaan bersih dan suci. Begitupun harus bisa memastikan, pakaian, kendaraan dalam keadaan bersih dan suci. Sama halnya dengan kebersihan rumah, masjid, di mana kita melaksanakan ibadah selama Ramadhan.

          Kedua yakni kesucian dari dosa-dosa yang telah dikerjakan. Dosa ada yang kecil dan besar. Namun yang pasti dosa itu akan menjadi hambatan yang paling serius bagi setiap orang yang ingin merasakan betapa nikmatnya menjalankan puasa, menjalankan tarawih, menjalankan i’tikaf. Dosa kecil bisa dihapuskan dengan amal shaleh. Sedang dosa besar tidak ada cara lain untuk menghapusnya selain bertaubat pada Allah. Bila seorang mempunyai dosa setinggi langit, sedalam samudra dan seluas alam semesta, tentu apabila ia mau bertaubat maka ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosanya.

          Ketiga ialah membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati. Ada rasa iri, tidak senang dengan kenikmatan orang lain. Dengki, menginginkan kenikmatan yang dimiliki orang lain hilang. Sombong, merasa diri lebih baik dari orang lain. Riya, ia yang suka memamerkan kelebihan-kelebihan dan kebaik-kebaikan pada orang lain, dan lain sebagainya dalam Qur’an disebutkan.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” QS. Al-Baqarah (2): 10

          Keempat mensucikan dirinya dari perbuatan dan aktivitas yang tidak ada manfaatnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ.

“Dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Diantara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya’.”

HR. Tirmidzi No. 2239

Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang bukan dari meninggalkan hal-hal yang terlarang. Bila seorang muslim bisa meninggalkan minuman keras, pencurian, perjudian itu hal yang wajar dan biasa. Sebab yang demikian itu sudah jelas larangannya dalam Qur’an dan hadis. Namun ukuran kebaikan seorang muslim itu ialah seberapa mampu ia meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak ada gunanya. Boleh jadi perbuatan itu boleh dan tidak berdosa bila dilakukan. Namun ukurannya ialah sebagaimana bisa seorang itu meninggalkan aktivitas-aktivitas yang tidak berguna.

          Terakhir, mensucikan niat atau motivasi selain daripada Allah swt. Barangkali masih ada dari ibadah yang dilakukan dengan niat selain pada Allah swt, maka yang demikian itu harus segera dibersihkan. Niat adalah hal yang sangat pokok untuk dapat merasakan indahnya bulan Ramadhan. Ibadah hanya untuk mengharap ridha Allah swt, dan menjadi pribadi-pribadi yang semakin beriman dan bertakwa kepada Allah swt.

Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Oleh Dr. Okrizal Eka Putra, Lc., MA.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui (QS. Al Baqarah/2: 30)

            Dalam sebuah buku, syaitan pernah berbincang dengan seorang ahli ibadah (‘abid) dan seorang ahli ilmu (‘alim). Syaitan bertanya kepada ‘abid tentang kemungkinan bahwa Allah mampu memasukkan bumi beserta seluruh isinya ke dalam gelas. Maka si ‘abid menjawab tidak mungkin bisa. Dalam hal ini berhati-hatilah, karena ‘abid tanpa ‘alim cukup berbahaya. Syaitan sangsi, menurutnya bumi bahkan bisa dimasukkan ke dalam mata manusia. Maka Rasululullah pernah mengibaratkan seorang ‘abid dan ‘alim seperti bumi dan bintang gemintang, menerangkan begitu tingginya kedudukan seorang ‘alim.

            Pada proses penciptaan Nabi Adam as., sebelumnya Allah mengabarkan kepada para Malaikat bahwa akan diciptakan khalifah di muka bumi. Kemudian para Malaikat memberikan tanggapan tentang hal tersebut, mengapa Allah akan menjadikan demikian. Padahal mereka (manusia) dapat berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya.

            Dari dialog tersebut, dapat diambil pelajaran bagi manusia bahwa ketika seseorang hanya memikirkan tentang kesalehan pribadinya saja, misal berangkat haji dan umroh setiap tahun, membaca al-Quran siang dan malam, mengerjakan salat sepanjang malam dan sebagainya, namun tidak peduli terhadap tetangganya yang kelaparan, maka sesungguhnya malaikat lebih layak untuk menjadi khalifah di muka bumi tersebut. Khalifah pada dasarnya berfikir untuk orang lain. Jika hanya berfikir tentang kesalehan pribadi dan abai terhadap kesalehan sosial, maka hal itulah yang disangsikan oleh para Malaikat.

            Pada zaman Nabi Musa ‘alaihi ssalaam. Ada seorang ‘abid (ahli ibadah) yang meminta Nabi Musa untuk menanyakan satu hal kepada Allah tentang tempatnya di Surga kelak. Maka ketika Nabi Musa bermunajat di Bukit Tursina dan memanjatkan doa, kemudian menyampaikan pesan orang tadi, oleh Allah dijawab bahwa orang tersebut justru akan ditempatkan di dalam Neraka.

            Ketika bertemu dengan ‘abid tadi dan diberitahukan jawaban tersebut, ia merasa heran dan meminta kepada Nabi Musa untuk menanyakan kembali tentang tempatnya di akhirat kelak. Oleh Allah dijawab bahwa ‘abid tersebut tempatnya di Surga. Maka terheranlah Nabi Musa, beberapa saat yang lalu dikabarkan menjadi ahli Neraka dan sekarang dikabarkan menjadi ahli Surga. Sehingga oleh Allah dijawab, bahwa ketika dalam perjalanan Nabi Musa ketika hendak bermunajat kepadaNya, seorang ‘abid tadi berdoa: sekiranya dirinya akan ditempatkan di Neraka dan itu memang karena keridhoan Allah, maka ia meminta agar sekiranya Allah menjadikan tubuhnya membesar memenuhi isi Neraka, sehingga tidak ada lagi tempat untuk orang lain di dalam Neraka. Maka dari itu, Allah rubah kedudukan ‘abid tersebut.

            Sesungguhnya seorang khalifah tidak pernah berfikir untuk dirinya sendiri. Namun sekarang banyak terjadi kekerasan, tawuran, pesta narkoba oleh anak-anak muda. Pada saat yang sama, banyak orang tua yang tidak peduli, yang penting bukan anaknya. Selain itu, adanya kenaikan harga bahan makanan dan barang pokok lainnya sehingga sebagian orang tidak dapat membelinya. Pada saat yang sama juga banyak yang tidak peduli, asalkan dirinya mampu membeli.

            Dalam kaitannya puasa, maka sejatinya puasa tersebut merupakan satu upaya untuk mewujudkan kesholehan sosial. Diantaranya, seseorang mampu merasakan lapar sebagaimana banyak para fakir miskin yang sering menahan rasa sakit karena lapar dan tidak memiliki kemampuan untuk membeli makanan. Harapannya, setelah berakhir bulan Ramadhan ini setiap orang/ muslim lebih peka terhadap keadaan sekitarnya. Berusaha membantu meringankan beban orang lain dengan segala kemampuannya. Inilah makna khalifah, yaitu ikut memikirkan kebutuhan orang lain. Salah satu alasan KHA. Dahlan mendirikan Muhammadiyah ialah agar dapat masuk Surga secara berjamaah, memikirkan nasib orang secara bersama-sama.

            Ayat selanjutnya tentang proses penciptaan Khalifah di muka bumi menerangkan bahwa Allah mengaruniakan ilmu kepada Nabi Adam, kemudian Malaikat (termasuk di dalamnya ‘iblis’, sebab sebelum Allah menciptakan Adam, ‘iblis’ masuk dalam barisan para Malaikat) ditanya tentang ilmu tersebut, namun jawaban para Malaikat ialah: Maha suci Engkau Ya Allah, tiada ilmu bagi kami melainkan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Setelah Nabi Adam menunjukkan ilmu yang dianugerahkan oleh Allah, maka para Malaikat disuruh oleh Allah untuk bersujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan wujud peribadahan) kepada Nabi Adam. Para Malaikat bersujud murni karena ilmu pengetahuan. Sehingga, kemuliaan manusia ialah ada pada ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, manusia harus memuliakan ilmu dan dilarang merendahkan ilmu tersebut.

            Adapun dalam suasana demikian, iblis tidak menuruti perintah Allah dan membangkang serta enggan bersujud kepada Adam. Meski demikian, Allah tidak langsung memberikan hukuman kepadanya, diberinya hak jawab mengapa tidak mau bersujud kepada Adam. Ini memberi pelajaran, bahwa sebelum memberikan hukuman kepada orang lain, perlu diberikan kepada yang bersangkutan hak jawab, dan ditanyakan alasan melakukan pelanggaran tersebut. Iblis memberikan alasan keengganannya bersujud kepada Adam, karena merasa dirinya lebih baik dari Adam. Dirinya diciptakan dari api, sementara Adam dicipatakan dari tanah. Iblis berlaku sombong, merasa bahwa api lebih mulia dibandingkan dengan tanah. Sementara, sombongnya seorang makhluk merupakan sesuatu yang amat dibenci di sisi Allah.

            Demikianlah, nenek moyang manusia di muka bumi ini dikaruniai oleh Allah ilmu pengetahuan. Disinilah kedudukan ilmu, karena fungsi dari ilmu itu sendiri ialah:

  1. Lambang seorang manusia, bahwa ‘alim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah subhaanahu wa ta’ala.
  2. Agar dapat menjalankan agama dengan benar. Maka, akidah seseorang haruslah benar dan didasari ilmu. Orang yang menyekutukan Allah (berbuat syirik) adalah orang yang tidak menggunakan ilmu pengetahuan. Seharusnya, semakin tinggi ilmu pengetahuan maka semakin rendah perbuatan syirik tersebut. Dalam dimensi manusia, segala sesuatu ada ilmunya. Maka, jika seseorang berjalan tidak sesuai dengan ilmunya, maka bisa dipastikan akan terjerumus pada perbuatan syirik.

            Misalnya, gunung merapi yang sedang aktif dapat dipelajari melalui ilmu yang ada padanya yakni ilmu vulkanologi, di antara tokohnya ialah Prof. Surono. Bukan sebaliknya, ketika merapi aktif malah dilemparkan kepadanya sesaji-sesaji, yang akibatnya rugi akidah, rugi waktu dan tenaga, rugi pula secara ekonomi. Contoh lain, ilmu tentang laut ialah oceanografi, tokohnya ialah Prof. Bambang Suroyo. Rumah Tangga memiliki ilmu yaitu Parenting, di antara tokohnya ialah Ust. Fauzi Azis di Jogja, bukan melakukan ritual tertentu dengan menyiram ‘benda’ ini dan itu, pagi petang dan sebagainya. Bangunan juga punya ilmu, yaitu teknik sipil. Berdagang ilmunya ialah marketing. Begitupun ketika ada orang yang menginginkan uang yang banyak, maka dibutuhkan kerjakeras, rajin menabung, tidak suka pergi ke mall, gemar shodakoh, bukan sibuk menggandakan uang yang notabene bukan merupakan dimensi manusia.

            Jika seseorang menginginkan kekayaan, maka perkayalah diri dengan ilmu, bukan dengan harta. Jika ingin terkenal, maka terkenallah karena ilmu dan bukan karena yang lain (tindak kejahatan, korupsi, pembunuhan, pesta narkoba, dll.). Maka dari itu, setiap orang tua memiliki kewajiban agar dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak yang ‘alim.

            Dalam suatu kegiatan parenting, ada seorang pemateri yang menyampaikan bahwa: “Jangan jadikan anak anda juara kelas. Orang kalau juara kelas maka ilmunya itu hanya rata-rata,”. Maka, tidak ada yang menonjol dalam dirinya, sedangkan tugas para orang tua dan guru ialah mencari potensi seorang anak. Ketika sudah ditemukan, maka potensi tersebut yang harus diprioritaskan. Orang-orang besar dunia ketika masih kecil bukanlah tergolong orang-orang yang pandai. Misalnya penemu honda dan penemu listrik, yang dikenal sebagai bukan anak yang pandai ketika masih kecil.

            Bekali anak-anak dengan ilmu agama, sering diajak ke masjid dan rajin shalat Shubuh. Dalam siroh, ada seorang sahabat bernama Sya’ban, ia dikenal sebagai orang yang rajin dalam melakukan shalat berjamaah. Suatu ketika, usai shalat Shubuh Rasulullah tidak mendapati sahabat Sya’ban dalam jamaahnya, kemudian Rasulullah bertanya kepada para Sahabat keberadaan Sya’ban. Namun, tidak ada satupun di antara mereka yang mengetahuinya. Kemudian, Rasululullah menanyakan rumahnya, salah seorang sahabat lalu menunjukkan keberadaan rumahnya, yang ternyata letaknya sangat jauh dari masjid Rasulullah tersebut.

            Ketika sampai di rumah sahabat tersebut dan bertemu dengan istrinya, lalu ditanyakan keberadaan Sya’ban. Kemudian, disampaikanlah oleh sang istri, bahwa Sya’ban telah meninggal dunia. Inilah alasan Sya’ban tidak terlihat berjamaah Shubuh. Maka, ketika jenazah sudah dimandikan dan dishalatkan, dan Rasululullah hendak pulang ke Madinah, dicegat oleh istri Sya’ban dengan sebuah pertanyaan, bahwasanya: ketika suaminya hendak syakaratul maut ia berteriak tiga kali: kenapa tidak yang baru!, kenapa tidak semua!, kurang jauh!.

            Oleh Rasulullah, (tentunya atas wahyu yang disampaikan Allah melalui Malaikat Jibril) dijawab bahwa suatu ketika dalam kondisi cuaca yang sanagat dingin, Sya’ban keluar dengan mengenakan baju berlapis, baju yang lama dikenakan pada lapisan yang paling luar. Di tengah perjalanan bertemu dengan seseorang yang kedinginan dan memerlukan baju, maka diberikan oleh Sya’ban baju yang lama tersebut. Selanjutnya, suatu ketika Sya’ban memiliki sebuah roti, kemudian datang kepadanya seorang pengemis. Oleh Sya’ban diberikan sebagian roti tersebut kepada pengemis tadi. Terakhir, jarak antara rumahnya dengan masjid Rasululullah yang sedimikan jauh dianggap kurang jauh. Ketika sakaratul maut, Allah memperlihatkan balasan kebaikan yang dilakukan oleh Sya’ban ketika memberi baju, diperlihatkan pahala ketika memberi makan kepada orang lain, dan kebaikan perjalanan menuju masjid, sehingga Sya’ban berteriak seperti itu.

Puasa Melatih Menjadi Pribadi yang Ikhlas

oleh Fajar Rachmadani, Lc. MA.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا ٱلزَّكَوٰةَ ج وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas/ memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al-Bayinah/98 :5)

            Salah satu pendidikan Ramadhan ialah untuk membentuk setiap muslim menjadi pribadi yang mukhlisin, yaitu seorang muslim yang benar-benar ikhlas kepada Allah SWT. Itulah sebabnya Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menjelaskan besarnya pahala yang akan diberikan kepada orang-orang yang berpuasa secara eksplisit.

            Ketika melihat beberapa ibadah yang lain seperti salat, Rasulullah SAW menjelaskan besarnya pahala yang akan diberikan untuk mereka yang melakasanakan ibadah salat secara berjamaah, صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً, salat yang dilakukan secara berjamaah itu lebih baik 27 derajat daripada salat yang dilakukan sendirian. Adapun dalam riwayat lain sebanyak 25 derajat.

            Selain itu, Rasulullah juga menerangkan besaran pahala ketika membaca al-Quran, dalam hadisnya: مَنْ قَرَأَحَرْفًامِنْ كِتَــابِ اللّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعشْرِأمْثـَـالِها, barangsiapa membaca satu huruf dari al-Quran, maka baginya mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dibalas pahala sepuluh kali lipat seumpamanya. Dalam perkara tersebut, Rasulullah menjelaskan detilnya pahala yang akan Allah berikan kepada mereka. Bahkan dalam ibadah sedekah, Allah SWT menjelaskan di dalam al-Quran:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ … Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki (QS. Al-Baqarah/2: 261).

            Demikianlah ibadah seperti salat, membaca al-Quran hingga bersedekah telah dijelaskan dengan sangat detil besaran pahala atau balasan kabaikan atas ibadah tersebut. Adapun ibadah puasa, Rasulullah SAW justru tidak menjelaskan berapa banyaknya pahala yang akan diperoleh, dalam hadis kudsi disebutkan: …كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku (Allah) dan Aku-lah yang akan membalasnya.

            Maka puasa tersebut melatih setiap muslim untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Jika ibadah yang lain itu dapat diketahui atau ditampakkan kepada orang lain, sehingga potensi terjadinya riya’/ sum’ah sangat besar, lain halnya dengan ibadah puasa, yang hanya dapat diketahui oleh hamba tersebut dan Allah SWT saja.

            Imam Ibnul Qayim al-Jauziyah dalam kitabnya al-fawaid, mendefinisikan tentang ikhlas. الإِخْلاَصُ أَنْ لَّا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرُ اللهِ وَلَا مُجَازِيًا سِوَاهُ, ikhlas adalah ketika engkau tidak mengharapkan seseorang melihat apa yang engkau kerjakan kecuali Allah, dan ketika seseorang berbuat suatu kebaikan dan ia tidak berharap kepada orang lain agar mereka mengapresiasi apa yang dikerjakannya kecuali Allah SWT. Dengan kata lain, ikhlas ialah seseorang yang beramal bukan karena manusia, tetapi semata-mata hanya untuk Allah SWT.

            Banyak orang yang memberikan satu analogi yang indah untuk menjelaskan makna ikhlas tersebut. Seperti apa yang akan dijelaskan di bawah ini:

            Ketika ada secangkir kopi ditambahkan dengan gula, kemudian diminum oleh seseorang, maka komentar mereka ialah, “sedapnya kopi ini…,” padahal yang menyebabkan sedap tidak lain ialah karena ada gula di dalamnya. Ketika ada secangkir teh yang ditambahkan gula, kemudian diminum oleh seseorang, maka komentarnya ialah, “sungguh manisnya teh ini…,” dan tidak ada yang mengatakan, “sungguh manisnya gula ini…,” dan mereka akan menyebut zat lain, bukan gula yang disebutkan.Ketika seseorang makan roti yang diberikan gula padanya, maka sekali lagi gula tidak disebutkan, bahwa ia yang telah menyebabkan kopi, teh dan roti menjadi sedap dan manis.

            Namun, ketika ada seseorang terkena penyakit diabetes/ penyakit gula maka yang disalahkan ialah bukan kopi, teh atau rotinya, melainkan yang disebut ialah gula. Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, bahwa tidak selamanya kebaikan yang ditanam akan berbuah apresiasi, pujian dan sanjungan dari orang lain. Maka sudah selayaknya sebagai manusia mesti banyak belajar kepada mahluk Allah yang bernama gula itu, guna menumbuhkan rasa keikhlasan di dalam dirinya. Sehingga segala perbuatan, tingkah laku dan amal ibadah apapun dilakukan hanya karena Allah SWT semata.

            Selain itu perlu juga belajar dari mahluk Allah yang lain, yaitu akar. Akar merupakan sesuatu yang sangat penting agar pohon dapat tumbuh kokoh dan rindang, ia berusaha untuk masuk menembus ke dalam tanah bahkan bebatuan hanya untuk mendapatkan air. Di mana air tersebut semata-mata untuk keperluan batang pohon yang dengannya tumbuh bunga, bebuahan dan dedaunan yang rindang untuk menampakkan eloknya di dunia, yang kemudian manusia melihat lantas mengatakan, “sungguh, betapa indahnya pohon itu…”. Sementara akar tidak pernah iri, meski tidak pernah disebut.

            Bulan puasa memberikan pelajaran untuk membentuk setiap muslim menjadi pribadi yang mukhlis. Maka seorang mahasiswa/ pelajar, ketika mereka sudah mati-matian belajar menghadapi ujian, kemudian hasil yang mereka dapatkan mungkin mengecewakan serta tidak sesuai harapan, maka sesungguhnya yang demikian itu ialah ujian keikhlasan, ‘apakah mereka telah benar-benar ikhlas dalam belajar dan apa yang dipelajari?’ Ketika seorang guru, dosen, karyawan yang mendapat suatu hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka di situlah letak ujian keikhlasan tersebut. Ketika seseorang berbuat secara totalitas untuk mempersembahkan sesuatu untuk orang lain, tetapi tidak mendapat sanjungan dan apresiasi, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu ialah ujian keikhlasan.

            Oleh karena itu, jadikanlah momentum Ramadhan untuk menempa dan melatih drii agar menjadi pribadi takwa dan juga senantiasa berbuat ikhlas kepada Allah SWT, sehingga amal baik apapun yang dikerjakan benar-benar diterima oleh Allah, kemudian menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari Akhir kelak.