Mengenal Hukum dalam Islam

YOGYAKARTA- Kajian jelang berbuka di masjid Islamic Center UAD pada hari Sabtu (30/03) membahas tema tentang hukum dan Islam yang disampaikan oleh M. Habibi Miftakhul Marwa SHI, MH (Dosen Fakultas Hukum UAD) selaku pemateri.

Mengutip dari Rene David guru besar hukum dan ekonomi universitas Paris, Habibi menyampaikan bahwa tidak mungkin orang memperoleh gambaran yang jelas tentang Islam sebagai suatu kebulatan, jika orang tidak mempelajari hukumnya. Kemudian kerangka dalam Islam itu ada 3, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Akidah berbicara tentang keyakinan dan keimanan serta bagaimana tentang ketauhidan. Syariah adalah sistem hukum yang ada di dalam ajaran agama Islam. Syariah merupakan kumpulan norma ilahi yang Allah turunkan kepada umat manusia. Akhlak secara garis besar adalah sistem etika dan moral yang ada di dalam ajaran agama Islam. Antara ketiga kerangka tersebut terdapat satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan.
Islam memiliki kumpulan aturan yang lengkap hampir bisa dikatakan setiap aktivitas yang ada di dalam kehidupan manusia ini Islam memiliki sistem aturan. Aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dalam syariat itu ada aturan yang mengatur terkait tata cara beribadah dan membangun hubungan dengan Allah SWT. Islam juga mengatur tata cara membangun hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam yang disebut dengan muamalah.

Kemudian Habibi juga menjelaskan terkait perbedaan syariat dan hukum. Di mana syariat itu adalah kumpulan norma ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (ibadah), hubungan manusia dengan manusia dalam kehidupan sosial, hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan (muamalah).

Dan hukum merupakan suatu kumpulan aturan yang dapat dilaksanakan untuk mengatur atau mengatur masyarakat atau aturan apapun yang dibuat sebagai suatu aturan hukum seperti aturan dari perlemen. Manusia harus di atur agar manusia bisa hidup tertib agar tidak terjadi konflik. Dia juga menyampaikan bisa disebut hukum apabila memenuhi 4 unsur yaitu ada aturan, ada yang membuat, bersifat memaksa, ada sanksinya bagi para pelanggar aturan.

“Kedudukan hukum dalam Islam saling terikat karena Islam menjadi agama paripurna yang berisi aturan-aturan dan yang menjadi sumber hukum utama dalam Islam adalah Alquran dan hadis. Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin hukum umat Islam.” Terangnya.

Dalam Alquran memiliki kandungan hukum, seperti pada surat surat madaniyah kandungannya berkaitan dengan hukum. Ayat-ayat hukum di dalam Alquran ada sekitar 368 ayat atau sekitar 5,8 persen dari seluruh ayat di dalam Alquran. Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin hukum telah meletakkan hukum-hukum modern di tengah masyarakat arab yang masih jahiliah. Nabi Muhammad datang membawa perubahan terkait sistem hukum yang ada di Arab pra Islam. (Ekha Yulia Ningsih)

ISLAM, IMAN, DAN IHSAN SEBAGAI TIGA TINGKATAN TERTINGGI DALAM BERAGAMA

Suatu saat Jibril AS datang menemui Rasulullah SAW, dan bertanya kepada beliau tentang tiga persoalan yang sangat penting bagi umat Islam, yakni pengertian Islam, iman, dan ihsan.

Islam sebagaimana yang diketahui lalu dijawab oleh Rasulullah dengan 5 rukun Islam, dan iman dijawab dengan 6 rukun iman yang umat Islam yakini, dan semua dibenarkan oleh Jibril AS. Lalu terakhir, beliau bertanya tentang Ihsan dan dijawab dengan ungkapan yang sangat menarik; “anta’budallah kaannaka taraahu fa inlam yakun taraahu fainnahu yaraaka” (Kamu beribadah seakan-akan melihat Allah dan apabila kamu tidak bisa melihat Allah yakinlah bahwa Allah itu melihat kamu”.

Ketiga inilah yang dikatakan oleh para ulama sebagai tingkatan atau martabat yang tertinggi di dalam Islam. Prolog ustadz Fathurrahman Kamal, Lc., M. S. I. (Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah), saat mengawali kajian singkat sebelum shalat tarwih di Masjid Islamic Center UAD.

Dia kembali melanjutkan bahwasanya, Islam seringkali dipahami sebagai persoalan-persoalan yang bersifat praktis di dalam kehidupan. Shalat, zakat, dan puasa yang umat Islam lakukan sehari-hari dinyatakan sebagai bagian daripada manifestasi Islam secara amaliyah, dan di atasnya menyangkut persoalan yang bersifat alyakiniyah, yaitu keyakinan kepada Allah SWT, lalu gabungan antara al-Islam dan al-iman itulah yang melahirkan ihsan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Sehingga Al-Ihsan ini merupakan tingkatan paling tinggi di antara ketiganya di hadapan Allah yang maha pengasih dan penyayang.

Puasa menjadi praktik suci yang ditujukan untuk meningkatkan ketakwaan di antara mereka yang beriman. Hal ini dinyatakan ketika seseorang telah mencapai level kedua dalam keimanan, yaitu iman, dimana kebenaran agama diterima sepenuhnya sebagai bagian dari keyakinan yang melekat dalam diri. Kebenaran ini bisa datang dari wahyu ilahiyah yang mutlak atau dari kebenaran aqliyah yang dapat dibuktikan melalui akal.

Dengan mengamalkan puasa, seseorang diharapkan untuk menolak segala bentuk kontradiksi terhadap keyakinan tersebut. Inilah esensi minimal bagi seseorang yang ingin mencapai tingkat ketakwaan sejati, sesuai dengan ungkapan “la’allakum tattaqun”.

Kemudian, yang dimaksud dengan Al-ihsan ialah ketika hati seseorang benar-benar tertanam, terpatri dengan kokoh di dalam suasana yang penuh dengan nurani, suasana yang penuh dengan cahaya dan kebaikan, hingga bahkan sesuatu yang tidak tampak atau kasat mata bisa menjadi jelas ketika intuisi bahasa nurani seseorang mengalami suatu aktivitas yang baik.

Fathurrahman mengutip sebuah nasihat dari Ibnu Qayyim Al-Jauziah di dalam kitab beliau yang berjudul Al jawabul Kaffi; dikatakan bahwa di antara 2 pintu utama paling besar orang yang masuk ke dalam neraka, yaitu: Pertama ialah pintu ketamakan dan kerakusan. Kedua syahwat perut. Jika ini tidak tertahankan, maka diikuti dengan syahwat kemaluan. Begitulah seterusnya berbagai macam ketimpangan kekacauan sosial, politik, dan ekonomi berangkat dari satu persoalan, yaitu perut.

Jangan pernah merasa berjasa di hadapan Allah SWT ketika sanggup meninggalkan semua makan dan minum, binatang juga pun sanggup tidak makan dan minum. Rasulullah mengingatkan kepada umat Islam betapa banyak orang berpuasa tidak dapat apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga, betapa banyak orang yang menghidupkan malam harinya untuk shalat dan seterusnya tidak mendapatkan apa-apa kecuali seperti orang yang begadang.

Maka sesungguhnya yang ingin diaktivasi oleh Allah ialah bukan hanya persoalan pengetahuan tentang agama Islam, bukan hanya klaim keimanan yang terus diucapkan melalui lisan, tetapi satu hal yang sangat penting “apakah kalbu kita semakin hidup dengan kita menjaga jarak dari segala hal apa yang seharusnya diperbolehkan oleh Allah swt?”

“Jadi saudara sekalian, itulah kata para ahli tasawuf atau tazkiyatun nufus, manakala saudara belajar fiqih, maka fiqih itu berbicara tentang tata kelola shalat yang sifatnya amaliyah, manakala saudara berbicara tentang iman atau akidah, maka iman dan akidah itu berbicara tentang S.O.P kita berkeyakinan kepada Tuhan tetapi satu yang paling tinggi, manakala kita berbicara tentang tazkiyatun nufus, maka kita sedang berbicara bagaimana kita membuat satu sistem prosedural di dalam menata hati qolbu dan nurani kita,” tutup beliau. (Siti Kamaria)

Inilah Kriteria-Kriteria Wujudul Hilal Dalam Penentuan Awal Puasa

Yogyakarta Pada sholat tarawih Ramadhan 1445 H perdana ini Masjid Islamic Center UAD dipenuhi oleh para jamaah dari berbagai kalangan, baik Mahasiswa UAD sendiri maupun masyarakat umum dan ceramah tarawih perdana ini disampaikan oleh Prof. Dr. Muchlas, M.T selaku rektor Universitas Ahmad Dahlan. Ahad (10/03).

“Ketika kita akan melaksanakan sesuatu tentu kita harus memiliki alasan termasuk mengapa malam ini kita sudah memasuki bulan Ramadhan, maka saya akan membahas sedikit mengenai wujudul hilal yang merupakan metode yang dipakai oleh Persyarikatan Muhammadiyah yang metode ini juga sama-sama yang berkembang di Indonesia, selain rukyatul hilal bilfi’li yang digunakan oleh pemerintah dengan cara melihat secara langsung posisi hilal apakah sudah terlihat atau belum” Prolog Prof Muchlas mengawali ceramahnya.

Dia menjelaskan mengenai apa saja kriteria-kriteria yang digunakan Persyarikatan Muhammadiyah dalam menentukan awal puasa yang menggunakan wujudul hilal agar yang berpuasa besok semakin mantap ketika memutuskan berpuasa selama 30 hari kedepannya, namun metode wujudul hilal ini akan diganti menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dimulai pada 1 Muharram 1446 H. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) merupakan versi paling mutakhir dari upaya umat Islam sedunia untuk menyatukan penanggalan mereka. Kalender ini berprinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Artinya jatuhnya tanggal baru Hijriah adalah pada hari yang sama di seluruh muka bumi. adapun berikut kriteria-kriteria wujudul hilal dalam menentukan puasa:

  1. Conjuction terjadi sebelum maghrib, bulan mengelilingi bumi kemudian ada sinar matahari dan sinarnya sejajar dengan bidang ekliptika dengan bulan, dan inilah disebut dengan Conjuction.
  2. Terjadinya peristiwa moonset after sunset, matahari tenggelam terlebih dahulu dan bulan akan terlihat dan saat itulah ketinggian bulan akan diukur.
  3. Ketinggian bulan berada di atas posisi 0 derajat.

“Kesimpulannya adalah hari ini sudah masuk 1 Ramadan 1445 Hijriyah pada ba’da magrib karena di dalam kalender Hijriyah perubahan hari itu dilaksanakan atau terjadi setelah maghrib jika bulan Syamsiah atau bulan biasa itu tengah malam setelah jam 12 berganti hari, jika bulan Hijriyah pergantian harinya atau pergantian tanggalnya adalah setelah Magrib dan hari ini adalah tanggal 1 Ramadhan.” Terang Ustaz Muchlas.

Tak sampai disitu saja, Ustaz Muchlas juga mengajak para jamaah terawih untuk senantiasa mengisi hari-hari dengan berbagai amal sholeh dengan memperhatikan apa saja kebiasaan Nabi menjelang Ramadhan. Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi kita semuanya sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Maka hal yang perlu seseorang lakukan adalah banyak bersedekah dan berinfaq, menahan amarah, jangan sedikit-sedikit marah, memperbanyak kalimat yang baik, mudah memaafkan kesalahan orang lain dan memperbanyak senyum. Diakhir ceramahnya Ustaz Muchlas berpesan sebagai ketua majelis pustaka dan informasi yang memiliki tanggung jawab untuk mengajak bijak dalam bersosial media.

“Tentu kita semua saat ini tidak bisa lepas dari sosial media, bahkan ketika bangun tidur yang pertama kali kita buka adalah sosial media, maka saya harap kita semua memiliki kebijakan yang baik dan memiliki karakter yang baik dalam bersosial media dan mari kita gunakan sosial media ini untuk amal sholeh, sampaikanlah kebaikan-kebaikan hal-hal yang benar, karena orang beriman diperintahkan untuk senantiasa mengucapkan perkataan yang baik” Tutupnya.

Ramadhan 1445 H Islamic Center UAD Kembali Hadirkan Masjid Ramah Anak selama

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bulan Ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Bulan yang penuh berkah dan dimuliakan oleh Allah SWT. Semua orang berbondong-bondong meramaikan masjid untuk menjalankan segala aktivitas ibadah. Dimulai dari shalat tarawih, baca al-Qur’an, bermajelis imu dan lain-lain.

Tapi terkadang hal itu, menjadi suatu momok yang dikhawatirkan oleh orangtua yang memiliki anak balita (Bawah Lima Tahun), di mana hal itu menjadikan orangtua tidak khusyuk jika beribadah di masjid. Takut menangis, takut menjerit, takut lari-larian, takut mengganggu jamaah lain, hal-hal itulah yang membuat para orangtua khawatir.

Dari masalah inilah, Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan melayani dan menghadirkan kembali “Masjid Ramah Anak”di bulan Ramadhan 1445 H. di mana para orang tua bisa dititipkan anaknya di sana, sehingga orang tua bisa ikut shalat tarawih berjamaah dengan khusyuk tanpa ada kekhawatiran lagi.

Ramadhan Di Kampus (RDK) UAD sudah diresmikan oleh Rektor UAD yaitu Prof. Dr. Muchlas, M.T. Pada hari Jum’at (08/03) di saat pengajian songsong Ramadhan 1445 H. tahun ini pun ada dua hal yang baru dari beberapa agenda yaitu Kajian menjelang berbuka diisi oleh perwakilan masing-masing Fakultas dan Pengajian Pimpinan Struktural.

Pada program “Masjid Ramah Anak” sudah menjadi ikon untuk Masjid Islamic Center UAD yang banyak diapresiasi oleh para jamaah. Salah satu dari jamaah mengatakan bahwa dia datang dengan membawa anaknya agar dia dapat mengenalkan kepada anaknya tentang berbagai ibadah selama bulan Ramadhan. Dan dengan adanya program itu pun menjadikan dirinya dapat mengikuti rangkaian ibadah dari shalat Isya, Tarawih sampai selesai dengan khusyuk dan tenang.

Dari panitia RDK IC pun demikian, bahwa program pendampingan anak-anak ini sebelumnya hanya slogan saja dari para jamaah, kemudian ditahun 1444 H. merealisasikan slogan tersebut menjadi program tersebut. Lokasi program ini ditempatkan di lantai 1 masjid Islamic Center UAD.

Tujuan dengan adanya program ini juga intinya menjaga kekhusyukan ibadah para jamaah tanpa harus terganggu pikirannya karena anak-anaknya yang masih kecil. Kemudian, di program ini ada beberapa fasilitas yang sudah disediakan yaitu: menyediakan aneka mainan, mulai dari kartun anak muslim dan juga keterampilan anak-anak mulai mewarnai , mengembaikan puzzle yang telah diacak-acak dan terdapat juga buku cerita anak Islami.

Tarawih Perdana

Sesuai keputusan Muhammadiyah bahwa puasa Ramadhan 1445 H. pada hasil hisab dinyatakan awal bulan Ramadhan jatuh pada hari senin (11/03). Maka, Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan menggelar shalat tarawih perdana.

Semua warga persyarikatan Muhammadiyah khususnya di sekitar UAD, semua berbondong-bondong baik itu dosen, mahasantri PERSADA bahkan warga pergi ke masjid Islamic Center UAD yang begitu megah dan indah. Ditambah adanya tampilan videotron indoor yang baru, membuat masjid tersebut  menjadi lebih menakjubkan. Sesuai dengan arahan rektor, bahwa videotron dapat ditampilkan saat tarawih perdana di mulai.

Kholik Abdurahman asal Pekalongan selaku jamaah masjid Islamic Center UAD yang pertama kali ikut shalat tarawih merasa senang karena ramai sekali jamaah yang ikut.

“Saat ikut shalat tarawih, ramai sekali yang datang ke masjid IC ini. apalagi melihat videotron yang baru dipasang di masjid ini menjadi menarik perhatian para jamaah. Saya senang dengan imamnya yang bagus bacaannya, apalagi AC di masjid ini membuat suasana jadi sejuk dan para jamaah khusyuk shalat tarawih” ungkapnya

Melihat para jamaah ketika masuk ke masjid tersebut, tampak senyum berseri terlihat di muka, anak-anak bersemangat karena di masjid ini juga disediakan mainan beredukasi sehingga para orangtua tidak perlu khawatir dan tenang meninggalkan anaknya di ruangan khusus anak-anak yang terletak di lantai 1 masjid Islamic Center UAD.

Pada tarawih perdana ini, rektor UAD yaitu Prof. Dr. Muchlas, M.T. menjadi penceramah tarawih perdana di masjid Islamic Center UAD. Muchlas sampaikan terkait perbedaan awal Ramadhan dengan pemerintah yang telah disepakati dalam Sidang Isbat yaitu 1 Ramadhan jatuh pada hari Selasa (12/03). Dan Muhammadiyah juga mulai nanti di tahun baru Hijriyah akan menerapkan Kalender Hijriyah Global KHGT) yang sudah dirumuskan lama oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Muchlas Sampaikan kepada para Jamaah, untuk bisa memanfaatkan pelayanan ibadah yang telah disediakan oleh panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) UAD dengan sebaik-baiknya. (Badru Tamam)

Menakjubkan, Para relawan RDK UAD bahu-membahu Packing ribuan paket Santunan Dhu’afa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Ramadhan sebentar lagi, tidak terasa 11 bulan telah dilewati dan umat Islam akan kembali menunaikan kewajiban ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1445 H. semua orang berbondong-bondong memanfaatkan sisa waktu untuk mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan.

Seperti halnya Para Relawan Ramadhan Di Kampus (RDK) Universitas Ahmad Dahlan juga memanfaatkan salah satunya dua hari sebelum Ramadhan yaitu dimulai dari hari Sabtu (09/03) para Relawan bahu-membahu mempersiapkan bahan-bahan sembako untuk ribuan paket santunan yatim dan Dhuafa. Selain itu juga, dengan lebih awal mempersiapkan hal ini, para relawan bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan.

“Packing santunan ini dimulai lebih awal berawal dari inisiatif panitia agar para relawan tidak terganggu ibadahnya. Tahun kemarin loading barang-barang dilakukan ketika jam puasa. Jadi harapannya ketika packing sudah dilakukan sebelum Ramadhan memberikan kesempatan untuk para relawan dan panitia tetap fokus dalam berpuasa” Ungkap Andika selaku Panitia.

Dengan hal ini juga, membuat para relawan tidak perlu lagi khawatir haus atau lapar, karena masih bisa minum dan makan. Ditambah dengan penyemangat dari ustadz Budi Jaya Putra melalui tepuk semangat, yang membuat para relawan tetap semangat mempacking paket santunan. Walaupun banyak paket yang dipacking, canda tawa dari setiap relawan membuat suasana rileks.

Berbulir-bulir keringat pun keluar dari badan para relawan tidak menjadikan mereka patah semangat. Capek, lelah, letih sudah dirasakan, ada yang beristirahat sejenak, ada yang minum es teh segar, ada yang menyetel lagu atau musik jawa yang membuat orang-orang semangat, dan ada pula yang canda gurau dengan relawan lain sehingga rasa lelah pun sedikit demi sedikit menghilang. Salah satu relawan juga mengungkapkan rasa gembiranya sat ikut packing.

“Ini menjadi yang keduanya saya iku packing paket santunan yang diselenggarakan oleh RDK UAD. saya sangat senang bisa membantu menyukseskan program ini, walaupun capek tapi rasanya tetap seru.” Ungkap salah satu Relawan.

Adapun program ini diselenggarakan sebagai bentuk kegiatan sosial dan kepedulian Universitas Ahmad Dahlan terhadap warga khususnya kaum dhu’afa yang berada di sekitar lingkungan kampus UAD. (Tamam)

Ustadz Sucipto: Berikan Pesan dan Arahan Kepada Relawan RDK UAD Terkait Kepenulisan Berita

YOGYAKARTA– Berita menjadi suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan itu, semua orang dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di muka bumi ini. Maka, berita tidak dapat dibuat dengan sembarangan atau dikarang sendiri oleh seorang penulis.

Beberapa Tim Media dan Relawan Ramadhan Di Kampus (RDK) Universitas Ahmad Dahlan mengikuti Pelatihan Jurnalis Dakwah pada hari Sabtu (09/03) di Perpustakaan Pusat Tarjih Muhammadiyah lantai 1 Masjid Islamic Center UAD. Sucipto, M.Pd. B.I., Ph.D. selaku pemateri dalam pelatihan tersebut. Kemudian, Mustafa Ahyar, S.Pd., M.Pd. selaku Kabid. Media dan IT Pesantren Mahasiswa K.H. Ahmad Dahlan (PERSADA) UAD dan Dr. Arif Rahman, M.Pd.I. Dekan Fakultas Agama Islam UAD turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ada beberapa pesan yang disampaikan oleh Sucipto, yaitu: Pertama, bahwa berita yang merupakan kumpulan data informasi terkait suatu hal harus berdasarkan data yang faktual. Dalam berita tidak boleh menulis dengan tanpa data bahkan tidak dianjurkan mengarang sendiri. Kedua, berita bersifat cepat basi. Sehingga Sucipto sampaikan kepada para peserta bahwa dalam penulisan berita harus segera dilakukan dan tidak berlangsung lama dari acara tersebut. Ketiga, Gunakan kata kunci judul yang menarik dan mudah dicari oleh para pembaca berita.

“Itu akan banyak menggiring pembaca lebih mudah untuk memahami berita kita. Maka gunakan kata kunci yang sering digunakan orang-orang.” terangnya

Dalam hal pembuatan berita ini, tidak hanya mengandung unsur 5W+1H, tetapi lebih banyak apa yang disampaikan tanpa meninggalkan fakta-fakta dan harus diracik juga agar terciptakan point of View yang menarik dilirik oleh para pembaca berita. Sucipto menuturkan bahwa penulis yang terbaik adalah dapat menulis yang dapat membuat orang melirik tulisan kita dan membagikan di media sosialnya.

Sucipto juga memberikan arahan kepada para peserta, agar dapat membuat berita di luar kajian-kajian Ramadhan Di Kampus UAD. Karena berita tidak hanya berkaitan dengan kegiatan yang terlaksana tetapi juga pandangan seorang penulis berita terhadap situasi dan kondisi yang ada di sekitarnya.

“Nah teman-teman harus peka ya, jadi kalau ada jamaah entah itu subuh atau dari jauh, didekati. Jangan langsung kaku saya jurnalis RDK ini dan ini.kuncinya picture yang baik adalah kalian menyatu dengan subjek yang akan ditulis dalam berita.” Jelasnya.

Kemudian, Sucipto memberikan banyak tema di luar kajian yang diselenggarakan oleh Panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) UAD, yang membuat para peserta dapat berpikir lebih luwes lagi dalam membuat berita. Dan diperlukan penulis khusus yang membuat berita tersebut agar orang lain tertarik tidak hanya dalam sisi kajiannya saja. (Badru Tamam)

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1445 / 2024 M

Berikut jadwal imsakiyah dan buka puasa Ramadhan 1445 H/2024 untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, dikutip dari suaramuhammadiyah.id

Download  : JADWAL IMSAKIYAH RAMADHAN 1445 H